Selasa, 29 Maret 2016

JAGALAH DIRIMU DAN KELUARGAMU DARI (SIKSA) API NERAKA (QS.AT TAHRIM:6)


Ayat keluarga Menjaga Diri dan Keluarga dari Api Neraka

Alloh subhanahu wa ta'ala berfirman:

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا }
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At Tahriim: 8)

Segala puji hanya bagi Alloh, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Alloh yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya dan aku bersaksi bahwa Muhammad sholalllohu alaihi wa sallam adalah hamba dan utusanNya.. Amma Ba’du.
Sesungguhnya Alloh subhanahu wa ta'ala menurunkan yang agung ini untuk ditadabburi dan diamalkan.
Alloh subhanahu wa ta'ala berfirman:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ
Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran. (QS. Shad: 29)

Dalam rangka mengamlkan ayat ini maka marilah kita mengkaji firman Alloh subahanahu wa ta’ala di dalam kitab Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Alloh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. Al-Tahrim: 6)

Firman Alloh subahanahu wa ta’ala: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا)
Amirul mu’minin Ali rodhiallohu anhu berkata: Ajarkanlah kepada mereka adab dan tanamkanlah pada diri mereka kebaikan.

Qotadah rahimahullah berkata: Engkau memerintahkan mereka untuk mentaati Alloh dan mencegah mereka bermaksiat kepada Alloh, hendaklah engkau menegakkan perintah Alloh teradap mereka, memerintahkan mereka dengan perintah Alloh dan membantu mereka dalam urusan tersebut, dan jika engkau melihat kemaksiatan dari mereka maka hendaklah engkau menghardik mereka”.

Firman Alloh subahanahu wa ta’ala: وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
Maksudnya adalah bahan bakarnya adalah bangkai-bangkai anak Adam dan batu-batu. Ibnu Mas’ud rodhiallohu anhu berkata: Batu itu berasal dari batu korek (sejenis batu bara) hitam.

Firman Alloh subahanahu wa ta’ala: عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ
Ibnu Sa’di berkata: Mereka bertabi’at kasar, membentak dengan kasar dan mereka membuat orang gemetar dengan suara mereka dan  membuat orang ketakutan dengan rupa mereka, mereka mempermainkan penghuni neraka dengan kekuatan mereka, mereka menjalankan perintah Alloh yang telah menetapkan siksa bagi penghuni neraka dan mengharuskan bagi mereka siksa  yang pedih

Dan firman Alloh subahanahu wa ta’ala:   لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُون ayat ini menjelaskan tentang pujian terhadap para malaikat, mereka tunduk terhadap perrintah Alloh dan taat kepadaNya pada segala urusan yang diperintahkan kepadanya oleh Alloh subahanahu wa ta’ala.

Pelajaran yang bisa dipetik dari ayat yang mulia ini:
1-Wajib bagi seseorang untuk memerintahkan dan mendorong keluarganya mengerjakan yang ma’ruf, melarang dan menghardik mereka berbuat yang mungkar. Dia harus memerintahkannya mengerjakan shalat, menunaikan zakat, menjalankan puasa dan semua kewajiban Islam. Memerintahkan mereka berakhlak dengan akhlak yang baik dan adab yang bagus, mendorong mereka melaksanakan amal-amal yang utama, seperti membaca Al-Qur’an, mempelajari ilmu yang bermanfaat.

Alloh subahanahu wa ta’ala berfirman kepada NabiNya sholalllohu alaihi wa sallam:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. (QS. Thaha: 132)

Alloh subahanahu wa ta’ala berfirman tentang Isma’il alaihis salam:
وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا

Dan ia menyuruh ahlinya untuk bersembahyang dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridai di sisi Tuhannya. (QS. Maryam: 55)

Dari Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya bahwa Nabi sholalllohu alaihi wa sallam bersabda, “Perintahkanlah anak-anak kalian mengerjakan shalat pada saat usia mereka tujuh tahun dan pukullah mereka pada saat telah mencapai usia sepuluh tahun dan pishakanlah antara mereka dalam ranjang tidur mereka”.

Demikian juga wajib bagi orang tua untuk mencegah meraka dari segala perkara yang bisa menjadikan Alloh murka baik berupa perkataan atau perbuatan, dia harus  mencegah mereka dari kekejian baik yang tampak atau yang tersembunyi, melarang mereka berdusta, melarang keluarga wanita menampakkan wajah dan membuka aurat, bepergian ke pasar dan tempat-tempat yang meragukan, melarang seluruh keluarganya dan orang yang berada di bawah tanggung jawabnya bersahabat dengan orang-orang yang buruk, melarang mempergauli mereka, melarang menyerupai orang-orang kafir dan fasik, memutuskan segala fasilitas yang mengarahkan mereka kepada murka Alloh dan amarahNya, melarang mereka menjauhi fasilitas yang menjauhkan keluarga dari ridha dan taat kepada Alloh, seperti sarana elektronik, televisi dan fasilitas lainnya yang menyeru kepada kekejian dan keburukan akhlak.

Dari Aisyah ra bahwa Nabi sholalllohu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang diuji oleh Alloh dengan memiliki anak wanita ini maka dia menjadi penghalang baginya dari api neraka”.

2-Kepedihan siksa dan balasan yang disediakan oleh Alloh bagi musuh-musuhNya, di dalam ayat ini. Di dalam ayat Alloh subahanahu wa ta’ala memberitahukan bahwa bahan bakar api neraka yang dijadikan sebagai alat untuk menyalakan api neraka adalah bangkai-bangkai anak Adam dan batu-batu yang berasal dari batu bara yang hitam.  Dan di dalam ayat yang lain Alloh subahanahu wa ta’ala telah menjelaskan tentang keganasan dan kekuatan api tersebut.

Alloh subahanahu wa ta’ala berfirman:
كَلَّا إِنَّهَا لَظَى نَزَّاعَةً لِّلشَّوَى تَدْعُو مَنْ أَدْبَرَ وَتَوَلَّى وَجَمَعَ فَأَوْعَى

Sekali-kali tidak dapat. Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergejolak, Yang mengelupaskan kulit kepala, Yang memanggil orang yang membelakang dan yang berpaling (dari agama). Serta mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya. (QS. Al-Ma’arij: 15-18)

Alloh subahanahu wa ta’ala berfirman:
وَمَا أَدْرَاكَ مَا سَقَرُلَا تُبْقِي وَلَا تَذَرُلَوَّاحَةٌ لِّلْبَشَرِ

Tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu?. Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. (QS. Al-Mudatstsir: 27-29)

Alloh subahanahu wa ta’ala berfirman:
يَوْمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ امْتَلَأْتِ وَتَقُولُ هَلْ مِن مَّزِيدٍ

Dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) Kami bertanya kepada Jahanam: "Apakah kamu sudah penuh?" Dia menjawab :Masih adakah tambahan? " (QS. Qaf: 29)

Dari Abdullah bin Mas’ud rodhiallohu anhu berkata: Rasulullah sholalllohu alaihi wa sallam bersabda, “Jahannam pada hari itu di datangkan di mana dia memiliki tujuh puluh tali, dan pada setiap talinya terdapat tujuh puluh malaikat yang menariknya”.

Dari Abi Hurairah ra bahwa Nabi sholalllohu alaihi wa sallam bersabda, “Api yang nyalakan oleh Ibnu Adam adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian dari panasnya api Jahannam. Para shahabat berkata: Panas yang demikian saja sudah cukup wahai Rasulullah?. Beliau bersabda, “Sesungguhnya neraka jahannam dilebihkan atas api di dunia sebesar enam puluh sembilan bagian, semuanya sama dalam derajat panasnya”.

3-Menetapkan bahwa malaikat ada dan wajib diimani, dan mereka memiliki golongan-golongan. Penjaga neraka ditugaskan untuk menyiksa penghuni neraka dan menghinakan mereka, dan jumlah mereka seperti apa yang disebutkan oleh Alloh subahanahu wa ta’ala adalah sembilan belas,

Alloh subahanahu wa ta’ala berfirman:
عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ

Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). (QS. Al-Mudatsir: 19) Dan tokoh besar malaikat ini bernama Malik.
Alloh subahanahu wa ta’ala berfirman:
وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ قَالَ إِنَّكُم مَّاكِثُونَ

Mereka berseru: "Hai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja". Dia menjawab: "Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)” (QS. Al-Zukhruf: 77)

Dan beriman kepada malaikat dan mereka adalah hamba yang mulia, mereka tidak menolak perintah yang diperintahkan oleh Alloh kepada mereka dan mereka mengerjakan segala apa yang perintahkan oleh Alloh teramsuk dalam rukun iman yang enam.
Alloh subahanahu wa ta’ala berfirman:
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُواْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

Rasul telah beriman kepada Al Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Alloh, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali". (QS. Al-Baqarah: 285)

4-Seharusnya bagi seorang muslim untuk menjaga dirinya dari api neraka. Keinginan untuk menjaga diri dari api neraka ini bisa diwujudkan walaupun dengan perkara yang paling kecil dari kebaikan.
Dari Adi bin Hatim ra berkata: Rasulullah sholalllohu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak seorangpun dari kalian kecuali Alloh akan berbicara dengannya dan tidak ada antara dirinya dengan Alloh seorang penerjemahpun, lalu sang hamba melihat ke arah sebelah kanannya maka dia tidak melihat kecuali apa yang telah diperbuatnya, lalu dia mengarahkan pandangan ke arah orang yang lebih buruk darinya maka dia tidak melihat kecuali apa yang telah diperbuatnya, lalu dia mengarahkan pandangan ke hadapannya maka dia tidak melihat dihadapannya kecuali api neraka, maka jagalah dirimu dari api neraka walaupun dengan sebelah biji kurma”.

Segala puji bagi Alloh Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.


Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka

Lebih lengkapnya, bunyi ayat tersebut adalah :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلآئِكَةٌ غِلاَظٌ شِدَادُُ لاَّيَعْصُونَ اللهَ مَآأَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَايُؤْمَرُونَ . التحريم : 6

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At Tahrim 66:6)


Segala puji bagi Allah Ta’ala, sholawat dan salam kita tujukan kepada Nabi Muhammad SAW, para Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in serta kepada siapa saja yang mengikuti jejak mereka sampai hari Qiyamat.

Marilah kita senantiasa berusaha meningkatkan amal harian kita, sebagai suatu bukti ibadah kita kepada Allah SWT. Sehingga hidup kita mendapat ridha dari-Nya. Yaitu dengan cara menjaga diri dan keluarga, istri, anak, orang tua, dan sanak kerabat kita dari adzab api neraka. Berikut ini kami ambilkan beberapa perkataan sahabat dan tabiin serta ahli fiqih dari berbagai macam Tafsir.
قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka

Umar bin Khottob berkata : saat turun ayat ini, bertanya kepada Rasul. Kami akan jaga diri kami, lalu bagaimana dengan keluarga kami ? Jawab Rasul : Kau larang mereka apa yang Allah telah larang dari-Nya, kamu perintah mereka dengan apa yang Allah telah perintah dari-Nya, jika itu kau lakukan, akan menyelamatkan mereka dari neraka.

Al-Qurtubi berkata : Di dalamnya hanya ada satu masalah : yaitu penjagaan seseorang terhadap diri dan keluarganya dari siksa neraka.
Ali bin Abi Tolhah berkata dari Ibnu Abbas : Jaga diri dan keluargamu, suruhlah mereka dzikir dan doa kepada Allah, sehingga Allah menyelamatkan kamu dan mereka dari neraka.
Sebagian Ulama berkata : kalau dikatakan Qu anfusakum : mencakup arti anak-anak, karena anak adalah bagian dari mereka. Maka hendaklah orang tua mengajarkan tentang halal dan haram dan menjauhkannya dari kemaksiatan dan dosa, juga mengajarkan hukum-hukum lain selain hal tersebut.
على بن أبى طالب : ادبوهم وعلموهم

Ali bin Abi Tholib berkata : Didiklah dan ta’limlah ( ajarlah ) mereka ( dirimu & keluargamu.)
ابن عباس : اعملوا بطاعة الله واتقوا معاصي الله وأمروا أهليكم بالذكر ينجيكم الله من النار

Ibnu Abbas berkata : Ta’atlah kamu kepada Allah. Janganlah bermaksiat kepada-Nya, Suruhlah keluargamu untuk dzikir mengingat Allah, niscaya Allah akan selamatkannya dari neraka.
مجاهد : اتقوا الله وأوصوا اهليـكم بتقوى الله.

Mujahid berkata : Takwalah kepada Allah dan suruhlah keluargamu untuk takwa kepada-Nya.
قتادة : تأمرهم بطاعة الله وتنها هم عن معصية الله فإذا رأيت لك معصية قذعتهم عنها وزجرتهم عنها
Qotadah berkata : Kau suruh keluargamu untuk taat kepada Allah, kau cegah mereka supaya tidak maksiat. Jika kamu lihat maksiat di antara keluargamu, maka ingatkan mereka dan tinggalkan kemaksiatannya.
الضحاك : حق على المسلم ان يعلم اهله من قرابته وامائه وعبيده ما فرض الله عليهم وما نهاهم الله عنه.

Adh-Dhohak berkata : Hak seorang muslim adalah supaya mengajari keluarga dan sanak kerabatnya tentang kewajiban mereka kepada Allah dan memberitahu larangan-larangan-Nya.
الفقهاء : وهكذا فى الصوم, ليكون ذلك تمرينا له على العبادة لكى يبلغ وهو مستمر على العبادة والطاعة ومجانبة المعصية وترك المنكر.

Ulama Fiqih berkata : Demikian juga seperti mengajarkan masalah-masalah shoum, agar keluarga membiasakan ibadah, agar mereka terus-menerus dalam kondisi selalu ibadah, taat kepada Allah, menjauhi larangan dan meninggalkan kemungkaran.

Al-Maroghi berkata : Hai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya, hendaklah di antara kamu memberitahukan satu dengan yang lain, yaitu apa-apa yang menyelamatkan kamu dari neraka, selamatkanlah diri kalian darinya, yaitu dengan taat kepada Allah melaksanakan perintah-Nya, beritahulah keluargamu, tentang ketaatan kepada Allah, karena dengan itu akan menyelamatkan jiwa mereka dari neraka, berilah mereka nasehat dan pendidikan. Hendaklah seorang lelaki itu membenahi dirinya dengan ketaatan kepada Allah, juga membenahi keluarganya sebagai rasa tanggungjawabnya sebagai pemimpin dan yang dipimpinnya.

Al Qurthubi mengingatkan lagi : Hak anak terhadap orang tua, hendaklah orang tua memberikan nama yang baik, mengajarkannya tulis menulis dan menikahkan bila telah baligh. Tidak ada pemberian orang tua terhadap anak yang lebih baik daripada mendidiknya dengan didikan yang baik. Perintahlah anak-anakmu sholat jika sudah berumur 7 tahun, dan pukullah jika umur 10 th, jika meninggalkan sholatnya, pisahkan tempat tidur mereka.

TADZKIROH DAN PERINGATAN BAGI KITA ;

• Jika suatu keluarga ingin selamat dari api neraka, hendaklah mereka mempelajari dan mengikuti jejak Rasulullah, para Sahabat, Tabiin dan Tabiut Tabiin, dengan memahami pesan-pesan mereka.

• Islam mendorong pemeluknya untuk menjadi pandai dan berkwalitas, memotivasi untuk selalu mencari ilmu yang benar, kemudian mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain, dalam hal ayat tersebut adalah perhatian tegas kepada sanak keluarga dekat, agar tidak lengah & tenggelam dalam kebodohan.

• Semoga Allah SWT. menjaga diri kita, keluarga, dan sanak kerabat kita dari siksa api neraka, kita ingatkan kembali do'a berikut ini :
ربنا آتنا فىالدنيا حسنة وفى الأخرة حسنة وقنا عذاب النار

Ya Rob kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan di akhirat, dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka
Tentang do'a ini, Al Hasan mengatakan : kebaikan di dunia adalah ilmu dan ibadah yang baik, sedang Ibnu Wahab mengatakan : kebaikan di dunia adalah ilmu dan rizki yang baik, dan penjagaan dari api neraka, adalah Surga.


MENJAGA RUTINITAS RUHIYAH
DALAM RUMAH TANGGA


"يَآأَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوآ أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلآئِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ".

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (Q.S. At-Tahrim/66 : 6)

Ayat yang mulia ini begitu menguncang orang-orang mu’min yang membacanya, terlepas dari keangkeran malikat Malik Alaihis Salam, dan neraka yang memang sangat menakutkan, tetapi lebih dari itu, cobalah perhatikan kalimat ini “jagalah dirimu dan keluargamu…”. Al-Imam Ali Radhiyallahu Anhu mengomentari ayat ini dengan mengatakan, “Bentuklah adab mereka dan ajarkan mereka (agama yang mulia ini)”. Di kesempatan lain Ibnu Abbas mengatakan, “Ajaklah keluargamu untuk taat kepada Allah, takut-takutilah mereka untuk berbuat ma’siat, dan perintahkan untuk selalu mengingat Allah, niscaya Dia akan menyelamatkan kalian dari api neraka”. Walhasil kata menjaga berarti aktivitas yang tidak akan berhenti kecuali kalau waktunya telah habis, untuk ukuran manusia tentunya sampai kematian datang menjemputnya. Tugas membentuk akhlak yang baik, menjaga keluarga dari kemaksiatan dan melanggengkannya untuk selalu taat kepada Allah, adalah aktivitas yang tidak gampang, diperlukan komitmen dan ilmu yang baik. Setiap anggota keluargapun mempunyai kewajiban yang sama untuk saling mendukung aktivitas ini, walau konteks ayat yang mulia ini mengedepankan suami sebagai pemeran utama, karena kata ahlikum maknanya adalah istri kalian, yang berarti ayat ini ditujukan kepada para suami.  Hal ini bisa dipahami karena kesuksesan terbesar dari program ini manakala suami sebagai kepala rumah tangga telah memulainya, dan di tangannya ada kekuasaan untuk memaksa dan mengarahkan istri serta anak-anaknya untuk taat kepada Allah. Namun dalam beberapa nash-nash syar’I menunjukan bahwa semua anggota keluarga mempunyai kewenangan dalam menjaga rutinitas ruhiyah dalam rumah tangga. Seorang suami memperingatkan istrinya, begitu pula istri mengingatkan suaminya, bapak memperingatkan anak-anaknya, begitu pula anak memperingatkan orang tuanya, begitu seterusnya sehingga seluruh anggota rumah tangga siap menjadi pelayan Allah, karenanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda,

“Allah merahmati seorang suami yang bangun malam untuk qiyamullaili kemudian ia juga membangunkan istrinya untuk itu, Allah merahmati seorang istri yang bangun malam untuk qiyamullaili dan ia membangunkan suaminya.”
 Dalam riwayat lain diceritakan bagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bangun malam dan membangunkan Fathimah yang kala itu sudah bersuamikan Ali Radhiyallahu Anhu. Hal ini menunjukan bahwa perhatian seorang ayah untuk membina keluarganya tidak lantas terhenti ketika sang anak telah menikah.
Beliau pun bersabda, “Perintahkan anakmu untuk shalat ketika ia berumur tujuh tahun dan pukulah kala ia berumur dua belas tahun”.
Di dalam Al-Qur’an diceritakan bagaimana Ibrahim Alaihis Sallam memperingatkan bapaknya Azzar untuk tidak mempersekutukan Allah”.

Sekarang ini tidak asing kalau anak kadang lebih lancar membaca Al-Qur’an, lebih rapat menjaga auratnya ketimbang orang tuannya, dan ini adalah fenomena yang baik yang hendaknya menggugah para orang tua untuk juga taat kepada Allah. Dari semua ini maka program penjagaan rutinitas ruhiyah dalam rumah tangga tidak lagi menunggu perintah dari atas (Baca bapak) tapi lebih kepada siapa yang telah siap dan diberikan hidayah oleh Allah. Ketika suami yang taat maka ia yang memulai, begitu pula sebaliknya. Bahkan ketika anak sudah mengenal hukum-hukum Allah maka tidak jadi halangan baginya untuk memperingatkan keluarga untuk taat kepada Allah.

Rutinitas ibadah yang harus dijaga dalam rumah tangga diantaranya adalah membiasakan untuk saling bertausiyah kepada kebaikan dan kesabaran. Alangkah bahagianya kalau seorang suami selesai shalat duduk sebentar memberikan sedikit nasehat kepada istri dan anak-anaknya, atau dalam berbagai kesempatan lainnya. Diantara rutinitas lainnya seperti membaca Al-Qur’an, karena betapa besar pengaruhnya dalam menerangi hati seluruh anngota keluarga. Rumah yang sering dibacakan Al-Qur’an akan membentuk penghuninya gampang menerima hidayah dan kebaikan. Tak kalah pentingnya adalah membiasakan diri untuk bangun malam, ambil waktu sedikit untuk khusus munajat kepada Allah perbanyak istigfar, karena rumah tangga adalah biduk yang sedang mengarungi bahtera yang penuh ombak besar, kapan saja biduk ini akan bisa tenggelam, dan bisa anda bayangkan apa yang diingat orang kala itu? Allah  yang maha agung, pertolongan dan penjagaanNya lah yang sangat diharapkan, maka akan sangat naïf seorang hamba yang lemah ini membangun keluarganya hanya mengandalkan kemampuan pribadi saja, maka jangan heran banyak biduk yang tenggelam sebelum sampai tujuan. (Abu Ayyash Rafaalhaq Muhammad rasikh, Lc)    

Menjaga Diri Dan Keluarga

Allah swt. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrîm [66]: 6)

Menurut Imam Thabari dalam kitab tafsirnya, Tafsir Thabari, juz XXIII, hlm. 491-492, maksud dari orang-orang yang beriman seperti disebutkan dalam ayat ini adalah orang-orang yang membenarkan keberadaan Allah swt. dan risalah yang dibawa rasul-Nya. Sementara itu, maksud dari “peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” adalah perintah agar anggota keluarga saling mengingatkan dan mengajarkan kebaikan. Hal itu agar semua anggota keluarga dapat dijauhkan dari api neraka. Jadi, apabila ada seorang anggota keluarga berbuat kebajikan, hendaknya ia mengajak yang lainnya agar turut melaksanakannya juga. Dengan begitu, setiap orang akan menjaga yang lain agar tidak terjerumus ke dalam neraka. Tafsiran ini senada dengan tafsiran sahabat Ali bin Abu Thalib r.a. atas ayat yang sama.

Menurut menantu Rasulullah saw. ini, setiap orang diharuskan mengajarkan kebajikan kepada anggota keluarganya. “Ajarkanlah akhlak kepada mereka,” demikian dikatakan Ali sebagaimana dikutip Imam Thabari. Imam Thabari juga mengutip tafsiran Mujahid dan Qatadah atas ayat yang sama. Dalam menafsirkan ayat ini, Mujahid mengatakan, “Bertakwalah kepada Allah dan berwasiatlah kepada seluruh anggota keluarga untuk bertakwa kepada-Nya.” Sementara itu, Qatadah menafsirkannya sebagai perintah untuk mengajak setiap anggota keluarga agar mengerjakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Selain itu, harus tolong-menolong dalam mengerjakan setiap perintah Allah dan saling mengingatkan jika melihat orang lain, terutama anggota keluarga sendiri, ada yang berbuat maksiat.

Masih menurut Imam Thabari, maksud dari “penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras” adalah bahwa neraka dijaga oleh para malaikat yang seram nan kejam. Mereka tidak akan segan untuk berbuat kasar kepada para penghuni neraka. Berbeda dengan para preman dari kalangan manusia, yang juga seram nan kejam, para malaikat tentu saja taat kepada Allah. Mereka tidak pernah mengabaikan semua perintah yang dititahkan Allah kepada mereka. Dalam kitab tafsir yang lain, Imam Ibnu Katsir juga mengutip tafsiran Ali, Mujahid, dan Qatadah itu atas ayat yang sama.
Imam Ibnu Katsir juga menyebutkan perkataan Ibnu Abbas bahwa maksud dari “peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” adalah perintah untuk taat kepada Allah dan menjauhkan diri dari bermaksiat kepada-Nya, lalu memerintahkan semua anggota keluarga untuk selalu ingat kepada sang Pencipta. Dengan begitu, mereka semua dapat diselamatkan dari api neraka. Dalam kitab Tafsir Ibni Katsir, juz VIII, hlm 167, disebutkan bahwa ayat ini dapat dikaitkan dengan sebuah hadits yang diriwayatkan Abdul Malik bin Rabi’ berikut ini. “Perintahkanlah anakmu untuk melaksanakan shalat jika ia sudah menginjak usia tujuh tahun. Jika ia telah berumur sepuluh tahun, tetapi berani meninggalkan shalat, maka pukullah ia.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi)

Disebutkan oleh Tirmidzi bahwa hadits ini termasuk hadits hasan. Dengan status sebagai hadits hasan, hadits ini pun diakui validitasnya oleh para ulama, juga banyak dijadikan pegangan oleh para fuqaha. Hal itu karena hadits hasan adalah hadits yang memang tidak mencapai derajar sahih, tetapi juga tidak terjerumus sampai ke derajat dhaif (lemah). Kalaupun salah seorang perawinya memiliki kekurangan, namun tidak sampai berdusta. (Muqaddimah Ibni Shalah, juz I, hlm. 77) Hadits ini menegaskan bahwa tanggung jawab orang tua terhadap anaknya tidak hanya berkaitan dengan materi. Orang tua juga dituntut untuk mengarahkan anaknya agar taat beribadah sesuai ajaran Islam. Bahkan, orang tua juga diperintahkan untuk berlaku tegas jika sang anak berani meninggalkan kewajiban beribadah.

Hadits itu dengan gamblang memerintahkan para orang tua untuk memukul anak yang berani meninggalkan shalat. Hal itu tidaklah mengherankan karena shalat merupakan ibadah paling primer dalam agama Islam. Imam Muslim dalam kitab Shahih Muslim menyebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah saw. bersabda, إ”Satu hal yang menjadi pembeda antara seseorang (muslim) dan syirik atau kafir adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)
Untuk konteks masa kini, memukul anak bisa jadi memang dapat mengantarkan orang tua berurusan dengan hukum negara. Namun, jika sang anak sudah dari kecil dididik untuk membiasakan diri tidak meninggalkan ibadah, tentu alternatif perintah untuk memukul anak ini dapat dihindari jauh-jauh. Jadi, dalam hal ini sama sekali tidak ada paradoks antara ajaran Islam dan hukum negara. Oleh karena itu, ketegasan Islam dalam memerintahkan orang tua untuk memerhatikan pendidikan dan budi pekerti anak tidak dapat dibaca sebagai anjuran berlaku kekerasan. Ketegasan ini justru menunjukkan bahwa Islam sangat peduli terhadap hubungan orang tua dan anak. Toh, jika sedari awal orang tua dapat membina anaknya untuk menaati setiap ajaran agama, maka tahap pemukulan yang identik dengan kekerasan juga tidak perlu dilalui.